Nov
30
Tuhan Tidak Pernah Benar
November 30, 2007 | Tagged Gede Pratama, Tuhan Tak Pernah Benar |
Tuhan
Tidak Pernah Benar
Penulis:
GedePrama
Setiap jenjang kedewasaan yang lebih tinggi, demikian
pengalaman saya
bertutur, sering kali mentertawakan jenjang kedewasaan di
bawahnya. Ketika
baru saja mulai belajar bekerja sebagai seorang sarjana baru
di salah satu
perusahaan Jepang, kerap kali dalam rapat saya ditertawakan
orang karena
berbicara dengan jargon-jargon universitas yang asing. Tatkala
baru belajar
berbicara di depan umum, tidak sedikit orang yang mengatakan
bahwa muka
saya merah ketika didebat orang. Pada saat baru belajar memimpin
orang,
sejumlah bawahan memberi masukan kalau saya mudah sekali tersinggung.
Pada
tahapan-tahapan tertentu dalam kehidupan saya sebagai manusia,
pernah
terjadi Tuhan tidak pernah saya anggap benar. Ketika belum jadi
manajer,
memohon ke Tuhan agar jadi manajer. Namun, begitu merasakan beratnya
duduk
di kursi pimpinan ini, maka Tuhanpun disesalkan. Tatkala, naik bus kota
sering
berdoa agar punya mobil. Saat mobil sudah di tangan, kemudian
menggerogoti
kantong dengan seluruh kerusakannya, maka salah lagilah Tuhan.
Sekarang,
ketika tabungan pengalaman dan kesulitan telah bertambah, rambut
sudah mulai
memutih, badan dan jiwa mulai lebih tahan bantingan, terlihat
jelas, betapa
naif dan kekanak-kanakannya saya pernah jadi manusia.
Yang membuat saya
super heran, kalau bertemu orang dengan umur yang jauh
lebih tua dari saya,
tetapi memiliki tingkat kenaifan yang sama dengan saya
ketika masih amat
muda.
Bekerja dengan orang lain, bahkan termasuk dengan pemilik
perusahaanpun,
tidak ada yang dinilai benar dan pintar. Setiap orang, di mata
orang ini,
hanyalah kumpulan manusia yang tidak patut dihargai. Kecuali,
tentunya
manusia-manusia dengan isi kepala yang sama, atau mau
berkorban
menyesuaikan diri sepenuhnya.
Di salah satu perusahaan yang
menjadi klien saya, orang mengenal seorang
pimpinan yang diberi stempel Mr.
Complain. Semua orang di sekitarnya - dari
sekretaris hingga bos besar -
dikeluhkan begini dan begitu. Dengan saya,
Tuhan pun sering di-complain. Dari
salah profesi, keliru memilih istri,
anak-anak yang tidak bisa diurus, sampai
dengan pemilik perusahaan yang dia
sebut super kampungan. Sebagai hasilnya,
ia memiliki koleksi musuh yang
demikian banyak, pindah kerja dari satu tempat
ke tempat lain, dan yang
paling penting memiliki kehidupan yang kering
kerontang.
Di mata orang-orang seperti ini, Tuhan senantiasa tidak pernah
benar. Sulit
sekali bagi manusia jenis ini untuk menerima saja lingkungan dan
rezekinya.
Yang ada hanyalah keluhan, keluhan dan keluhan.
Dengan
sedikit kejernihan, diri kita sebenarnya karunia Tuhan yang paling
berharga.
Anda dengan hidung, mata, bibir, kepribadian, ketrampilan, dan
senyuman yang
Anda miliki, hanya dimiliki oleh Anda sendiri.
Tukang jahit jarang sekali
membuat satu model baju untuk satu orang saja.
Pabrik mobil sangat sedikit
yang membuat mobil hanya untuk satu orang saja.
Arsitek sedikit yang
gambarnya diperuntukkan hanya untuk satu orang saja.
Kalaupun ada tukang
jahit, pabrik mobil dan arsitek yang membuat disain
khusus, dengan sangat
mudah orang lain bisa menirunya.
Tetapi Tuhan, mendisain setiap manusia
semuanya dengan keunikan. Bahkan,
manusia kembar pun tetap unik. Dan yang
paling penting, tidak ada satupun
yang bisa meniru Anda dengan seluruh
keunikan Anda. Bayangkan, betapa sulit
dan besar energi yang dibutuhkan untuk
mendisain sesuatu yang unik dan
tidak bisa ditiru siapapun.
Bercermin
dari sini, disamping kita harus berterimakasih ke Tuhan karena
menciptakan
keunikan yang tidak ada tiruannya, sudah saatnya untuk mencari
cara bagaimana
keunikan dalam diri ini bisa dimaksimalkan.
Hidung saya yang tidak
mancung ini tentu saja hanya milik saya seorang
diri. Dulu ia menjadi sumber
rasa minder, namun ketika ada orang yang
mengatakan ini penuh keberuntungan,
maka berubahlah dia sebagai energi
keberhasilan. Orang
Bali
dengan logat Batak, hanyalah milik saya
seorang
diri, belakangan justru ini yang membuat pembicaraan saya khas.
Penulis
manajemen yang berkombinasi dengan konsultan, eksekutif dan
bercampur
dengan sedikit darah seniman, bisa jadi hanya menjadi milik saya
seorang
diri. Tidak semua orang suka tentunya dengan saya, tetapi inilah saya
yang
amat saya banggakan dan saya syukuri. Herannya, semakin banyak
kebanggaan
yang saya sukuri, badan ini menarik saya ke serangkaian kebanggaan
yang
lebih membanggakan lagi. Bahkan, terhadap satu unsur badan yang
sebenarnya
tidak berubah - sebagai contoh hidung - dengan meningkatnya rasa
sukur, ia
tampak lebih menarik dan menarik. Demikian juga dengan istri, anak,
mertua
dan rezeki Tuhan lainnya. Mereka bertambah cantik, menarik dan
mendukung
sejalan dengan semakin banyaknya rasa syukur.
Kembali ke
cerita awal tentang manusia yang kerap menempatkan Tuhan dalam
posisi tidak
benar selalu, sudah saatnya mungkin kita menerima dan
menghargai seluruh
keunikan yang hanya milik kita sendiri.
Kalau memiliki rumah, mobil, baju
yang hanya didisain khusus untuk kita,
tentu saja ia amat membahagiakan dan
membanggakan. Demikian juga dengan
tubuh dan jiwa ini. Ia hanya didisain
khusus untuk kita.
Baik, buruk, cantik, ganteng, menarik, simpatik atau
membosankan sekalipun,
sebenarnya hanyalah judul dan stempel yang kita
berikan ke tubuh unik yang
kita bawa ke mana-mana ini. Bedanya, judul ini
kemudian tidak hanya
mengubah mata Anda, tetapi juga mata orang lain dalam
melihat diri Anda
sendiri.
Comments
You must be logged in to post a comment.